Hari ke-3 ekspedisi
“Amazing Culture Heritage” kami awali dengan mengunjungi Polulele atau
Jembatan Kuning yang menjadi salah satu landmark Kota Palu. Setelah melakukan
pemotretan perjalanan dilanjutkan menuju Pasangkayu yang ditempuh dalam waktu 2
jam. Sepanjang perjalanan terhampar pemandangan kebun sawit sejauh mata
memandang. Kami melewati jalan trans Sulawesi yang sangat mulus. Pada satu
jalan lurus Terios yang kami pakai bahkan bisa menempuh hingga 120 km per jam.
Kondisi mobil masih stabil dan nyaman. Dari propinsi Sulawesi Tengah kami mulai
masuk di Propinsi Sulawesi Barat. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan
panjang sejauh 327 km selama 11 jam akhirnya kami tiba di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Mulusnya jalan trans Sulawesi. Kecepatan terios bisa digeber s/d 120 km/jam. |
Kami disambut oleh tarian selamat datang yang dibawakan oleh
anak-anak begitu lincah dan bersemangatnya.
Ada juga tarian yang salah satu penarinya adalah seekor kuda. Nama tariannya adalah Sayang Patudu atau Kuda Menari. Tarian ini menjadi tarian khas Mandar. Biasanya tarian ini
dilakukan jika ada anak yang khatam Al Quran dan anak tersebut naik ke atas
kuda sebagai hadiah atas pencapaiannya itu.
Disambut tarian Sayang Patudu atau Kuda Menari |
Kami juga disambut oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten
Majene yang diwakili oleh asisten bupati dan Dinas Kebudayaan dan Kepemudaan.
Mereka begitu antusias dengan kedatangan kami mengunjungi salah satu propinsi
termuda di Indonesia. Perwakilan dari bupati menjelaskan bahwa Majene memiliki
kebudayaan yang bisa dikembangkan dan menjadi salah satu unggulan daerah
diantaranya adalah Sarung Tenun Sutra Kain Mandar.
Sarung tenun ini dikenal memiliki kualitas yang tinggi.
Perlu ketelitian dan kecermatan dalam membuat kain tradisional ini. Itulah
mengapa diperlukan waktu hingga 8 hari untuk membuat satu kain berukuran 4
meter dengan menggunakan alat tenun bukan mesin. Dalam kesempatan tersebut juga
diperagakan proses pembuatan kain Mandar yangmenggunakan alat tenun tradisional
bukan mesin.
Proses pembuatan kain tenun Mandar |
Sarung tenun sutra Mandar memiliki warna-warna cerah atau
terang seperti warna merah, kuning dengan desain garis geometris yang lebar.
Selain membuat motif tradisional, mereka juga membuat motif modifikasi yang
cukup banyak digemari. Bahan dasar kain Mandar adalah benang perak dan benang
emas. Itulah yang menjadikan kain ini terlihat indah dan istimewa juga harga
yang cukup tinggi. Harga jual kain Mandar berkisar antara Rp 300.000 hingga
jutaan rupiah.
Contoh beberapa corak kain Mandar |
Secara tradisional , motif sarung tenun sutra dirancang berdasarkan kasta atau tingkatan
derajat mereka yang memakainya seperti keluarga kerajaan, pejabat pemerintah,
pedagang kelas atas dan lain-lain. Namun dengan kondisi alam demokrasi seperti
sekarang ini siapa saja berhak menggunakan kain mandar pilihannya, yang penting
harganya cocok.
Pakaian khas wanita Mandar |
Setelah selesai mengeksplorasi budaya Mandar, kami juga
dijamu dengan makanan khas daerah Mandar yang penuh selera. Dan lagi-lagi waktu
yang membuat kami berpisah. Sekitar jam 9 malam kami harus segera meninggalkan
Majene menuju destinasi berikutnya yang berada di Propinsi Sulawesi Selatan
yaitu Parepare.
Dengan diiringi takbir sepanjang jalan karena besok adalah
Hari Raya Idul Adha, kami kembali menyusuri jalanan sepanjang Pantai Barat
Sulawesi. Menjelang tengah malam kami
sudah tiba di kota kelahiran mantan Presiden BJ Habibie itu. Segera setelah
tiba kami langsung bersih-bersih dan beristirahat karena esok pagi akan
mengikuti pengalaman baru berlebaran di “negeri orang”. Menjelang tengah malam kami tiba dengan selamat di kota Parepare, Sulawesi Selatan.
0 comments:
Post a Comment