Author: Travelopedia

  • Terios 7 Wonders : [Day-4] Sholat Idul Adha di Parepare, Menginap di Tongkonan Tana Toraja

    Masjid Agung Parepare

    Rasanya agak aneh ketika melaksanakan sholat idul adha di “negeri orang’. Biasanya saya tiap tahun merayakannya bersama keluarga. Tapi kali ini saya melaksanakan sholat idul adha di Parepare, tepatnya di alun-alun Masjid Agung Parepare. Tidak ada ayah dan saudara yang biasanya duduk berdampingan saat sholat ied. Selesai khutbah pun tidak ada orang yang dimintai maaf ataupun meminta maaf karena mereka semua tidak kenal. Tapi saya segera sodorkan tangan kepada siapa saja yang ditemui. Mereka menyambut dengan ramah. Pun ketika kembali ke hotel teman-teman sahabat petualang Terios 7 Wonders menyambut dengan gembira. Inilah keluarga baru saya. Keluarga yang selama 13 hari akan selalu bersama baik senang maupun susah.

    Termasuk dengan apa yang dilakukan oleh Astra Daihatsu Motor (ADM) yang pada hari ini akan ikut berbagi dengan menyumbangkan 7 (tujuh) ekor kambing kurban sebagai bagian dari program CSR (Corporate Social Responsible). Saya jadi ingat tahun lalu ketika mengikuti Ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise saat di Labuan Bajo saat itu ADM juga memberikan kambing kurban dengan jumlah yang sama.

    Penyerahan 7 ekor kambing kurban kepada imam Masjid Agung Parepare

    Penyerahan kambing kurban dilakukan di Masjid Agung Parepare kepada imam masjid bersamaan dengan acara perlombaan marawis tingkat pelajar SMP. Lomba ini sudah memasuki final, jadi tinggal menentukan juara 1,2 dan 3. Masing-masing peserta memberikan penampilan terbaiknya dan semuanya sangat bagus dan menghibur.

    Bersama pemenang juara 1 lomba marawis

    Setelah acara selesai, kami melanjutkan makan siang di tepi Pantai Parepare yang indah kemudian dilanjutkan menuju destinasi selanjutnya yaitu Rantepao, Tana Toraja dengan melintasi daerah Enrekang, Makale yang menempuh jarak sekitar 210 km. Sekitar pukul 5 sore kami sudah tiba di tugu Selamat Datang Tana Toraja.

    Selamat Datang di Tana Toraja

    Awalnya cukup senang karena sudah tiba di tempat tujuan. Tapi ternyata perjalanan masih jauh. Masih melewati Kota Rantepao dan beberapa kampung. Sekitar 2 jam dari tugu selamat datang tadi kita baru sampai di tujuan yaitu Desa Adat Lembang Tadongkon, Kesu.

    Di tempat ini kami disambut oleh nyanyian dan tarian Pa’gellu yang dibawakan oleh anak-anak. Kemudian disuguhi penganan khas dan kopi yang sudah melegenda yaitu Kopi Toraja. Indah sekali rasanya menyeruput kopi Toraja di tempat asalnya, apalagi sambil dihibur oleh tari-tarian kebudayaan setempat.  

    Tarian Pa’gellu

    Disambut dengan lagu-lagu daerah yang dibawakan anak-anak
    Penganan khas dan Kopi Toraja

    Kejutan tidak sampai disitu, tidak lama kemudian kami disuguhi makan makan dengan menu kuliner khas Tana Toraja yaitu Pa’piong Burak yaitu masakan daging ayam yang dicampur dengan batang pisang yang dimasak di dalam bambu. Rasanya jangan ditanya, silahkan coba sendiri.

    Kuliner Khas Tana Toraja : Pa’piong Burak

    Setelah makan malam selesai masih ada kejutan lainnya yaitu kami diperkenankan untuk menginap di Tongkonan yaitu rumah adat khas Tana Toraja. Jika biasanya kita hanya bisa melihat rumah adat yang bentuknya unik itu, sekarang malah diperbolehkan untuk tidur didalamnya. Sebuah pengalaman baru yang luar biasa.

    Suasana di dalam Tongkonan

    Di dalam Tongkonan sudah disediakan bantal dan alas tidur yang peraturannya tidak boleh dipindah-pindah. Jadi kepala kita harus tidur di atas bantal yang sudah ditentukan. Tongkonan yang kami inapi cukup sederhana, hanya ada tiga bagian ruang, di depan, tengah dan belakang. Saya sendiri memilih tidur di bagian depan agar bisa melihat pemandangan Tongkonan lainnya yang berjejer di depan rumah. Rasa dingin langsung menusuk ketika waktu sudah menunjukkan tengah malam. Rasanya seperti AC 20 derajat. Segera kami ambil jaket dan selimut sebagai penghangat. Tidak lama kami semua terlelap.

  • Terios 7 Wonders : [Day-3] Mengenal Lebih Jauh Kebudayaan Mandar

    Hari ke-3 ekspedisi 
    “Amazing Culture Heritage” kami awali dengan mengunjungi Polulele atau
    Jembatan Kuning yang menjadi salah satu landmark Kota Palu. Setelah melakukan
    pemotretan perjalanan dilanjutkan menuju Pasangkayu yang ditempuh dalam waktu 2
    jam. Sepanjang perjalanan terhampar pemandangan kebun sawit sejauh mata
    memandang. Kami melewati jalan trans Sulawesi yang sangat mulus. Pada satu
    jalan lurus Terios yang kami pakai bahkan bisa menempuh hingga 120 km per jam.
    Kondisi mobil masih stabil dan nyaman. Dari propinsi Sulawesi Tengah kami mulai
    masuk di Propinsi Sulawesi Barat. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan
    panjang sejauh 327 km selama 11 jam akhirnya kami tiba di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
    Mulusnya jalan trans Sulawesi. Kecepatan terios bisa digeber s/d 120 km/jam.
    Kami disambut oleh tarian selamat datang yang dibawakan oleh
    anak-anak begitu lincah dan bersemangatnya. 
    Ada juga tarian yang salah satu penarinya adalah seekor kuda. Nama tariannya adalah Sayang Patudu atau Kuda Menari. Tarian ini menjadi tarian khas Mandar. Biasanya tarian ini
    dilakukan jika ada anak yang khatam Al Quran dan anak tersebut naik ke atas
    kuda sebagai hadiah atas pencapaiannya itu.
    Disambut tarian Sayang Patudu atau Kuda Menari
    Kami juga disambut oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten
    Majene yang diwakili oleh asisten bupati dan Dinas Kebudayaan dan Kepemudaan.
    Mereka begitu antusias dengan kedatangan kami mengunjungi salah satu propinsi
    termuda di Indonesia. Perwakilan dari bupati menjelaskan bahwa Majene memiliki
    kebudayaan yang bisa dikembangkan dan menjadi salah satu unggulan daerah
    diantaranya adalah Sarung Tenun Sutra Kain Mandar.
    Sarung tenun ini dikenal memiliki kualitas yang tinggi.
    Perlu ketelitian dan kecermatan dalam membuat kain tradisional ini. Itulah
    mengapa diperlukan waktu hingga 8 hari untuk membuat satu kain berukuran 4
    meter dengan menggunakan alat tenun bukan mesin. Dalam kesempatan tersebut juga
    diperagakan proses pembuatan kain Mandar yangmenggunakan alat tenun tradisional
    bukan mesin. 
    Proses pembuatan kain tenun Mandar
    Sarung tenun sutra Mandar memiliki warna-warna cerah atau
    terang seperti warna merah, kuning dengan desain garis geometris yang lebar.
    Selain membuat motif tradisional, mereka juga membuat motif modifikasi yang
    cukup banyak digemari. Bahan dasar kain Mandar adalah benang perak dan benang
    emas. Itulah yang menjadikan kain ini terlihat indah dan istimewa juga harga
    yang cukup tinggi. Harga jual kain Mandar berkisar antara Rp 300.000 hingga
    jutaan rupiah.
    Contoh beberapa corak kain Mandar
    Secara tradisional , motif sarung tenun sutra  dirancang berdasarkan kasta atau tingkatan
    derajat mereka yang memakainya seperti keluarga kerajaan, pejabat pemerintah,
    pedagang kelas atas dan lain-lain. Namun dengan kondisi alam demokrasi seperti
    sekarang ini siapa saja berhak menggunakan kain mandar pilihannya, yang penting
    harganya cocok.
    Pakaian khas wanita Mandar
    Setelah selesai mengeksplorasi budaya Mandar, kami juga
    dijamu dengan makanan khas daerah Mandar yang penuh selera. Dan lagi-lagi waktu
    yang membuat kami berpisah. Sekitar jam 9 malam kami harus segera meninggalkan
    Majene menuju destinasi berikutnya yang berada di Propinsi Sulawesi Selatan
    yaitu Parepare.

    Dengan diiringi takbir sepanjang jalan karena besok adalah
    Hari Raya Idul Adha, kami kembali menyusuri jalanan sepanjang Pantai Barat
    Sulawesi.  Menjelang tengah malam kami
    sudah tiba di kota kelahiran mantan Presiden BJ Habibie itu. Segera setelah
    tiba kami langsung bersih-bersih dan beristirahat karena esok pagi akan
    mengikuti pengalaman baru berlebaran di “negeri orang”. Menjelang tengah malam kami tiba dengan selamat di kota Parepare, Sulawesi Selatan.
  • Terios 7 Wonders : [Day-2] Mengungkap Misteri Suku Bajo di Torosiaje Gorontalo

    Ekspedisi Terios 7 Wonders “Amazing Celebes Heritage”
    memasuki hari ke-2 dan destinasi yang akan dikunjungi adalah Kampung Suku Bajo
    yang berada di Desa Torosiaje, Gorontalo. Keunikan dari kampung ini adalah
    seluruh rumah dan fasilitasnya berada di atas laut. Ya benar-benar di atas
    lautan lepas pantai Torosiaje, Gorontalo. Saat kami mengunjungi kami menggunakan sampan
    tradisional yang dapat diisi penumpang sebanyak 5 orang. Dalam kurun waktu
    kurang lebih 10 menit kita sudah sampai di dermaga Kampung Bajo. Kami disambut
    oleh Pak Tama yang menjadi kepala dusun di Kampung Bajo. Pak Tama menjelaskan
    tidak hanya rumah penduduk saja yang berada di kampung di atas laut ini, tetapi
    ada juga pusat pemerintahan tingkat desa, aula, masjid, hingga penginapan umum.
    Jadi seperti sebuah kampung pada umumnya.
    Welcome to Bajo
    Selanjutnya Pak Tama menjelaskan bahwa mereka yang menghuni
    kampung ini adalah Suku Bajo dan suku lainnya jika ada yang menikah antar suku.
    Pak Tama sendiri aslinya orang Makassar, namun karena beliau menikah dengan
    seorang suku Bajo, akhirnya dia menetapkan diri untuk tinggal di kampung ini. Adapun
    alasan mengapa dia mau tinggal di tempat ini karena ia merasakan ketenangan
    karena jauh dari kebisingan kendaraan dan dekat dengan pekerjaan sehari-hari
    yaitu sebagai nelayan, jadi jika ingin melaut tinggal turun saja karena perahu
    selalu disandarkan di belakang rumahnya.
    Kampung Bajo, Kampung di atas laut, Torosiaje Gorontalo
    Lebih jauh Pak Tama menjelaskan bahwa suku Bajo ini banyak
    tersebar di pesisir pantai di seantero nusantara, bahkan sampai ada juga yang
    terdampar di Philipina. Awal mulanya kerajaan Bajo terdapat di wilayah Selat
    Malaka. Saat itu sang raja kehilangan puteri satu-satunya saat sedang berada di
    laut. Mendengar sang puteri hilang kemudian sang raja memerintahkan segenap
    pengawal dan rakyatnya untuk mencari keberadaan sang putri. Sebagai abdi
    kerajaan dan rakyat yang patuh, mereka para pengawal dan rakyat bahu membahu
    mencari keberadaan sang putri di lautan. Begitu sayangnya sang raja kepada
    putrinya, beliau memerintahkan kepada para pengawal dan rakyatnya yang akan
    melakukan pencarian hingga terucap kata, “Jangan kalian pulang sampai
    puteriku ditemukan!
    Dan sejak saat itu para pengawal dan rakyat suku Bajo mencari
    keberadaan sang puteri di segala penjuru lautan. Mereka tidak berani pulang
    karena tidak menemukan sosok sang puteri. Mereka lebih memilih tinggal di
    setiap pesisir pantai yang disinggahinya. Itulah sebabnya keberadaan suku Bajo
    ada di segenap penjuru nusantara. Mereka ada di Labuan Bajo, Nusa Tenggara
    Timur, Wakatobi, Kendari, bahkan hingga ada yang terdampar kepulauan Sulu di
    Philipina Selatan dan Thailand. Dan semua itu mereka tinggal di atas laut!


    Bagi Suku Bajo hidup di atas laut adalah sebuah pilihan. Mereka
    pernah mencoba untuk hidup seperti manusia normal di daratan, namun setelah
    dijalani tidak bertahan lama. Mereka kembali ke kehidupan di atas lautan.
    Menghirup udara laut, menikmati kesunyian dan deru ombak tanpa henti. Suku Bajo
    juga dikenal sebagai manusia yang mahir menahan nafas di dalam air hingga
    beberapa menit, bahkan ada yang bisa mencapai 11 menit. Kegiatan yang mereka
    lakukan adalah menyelam untuk mencari ikan atau lobster yang berada di dasar
    laut. terungkap juga Cerita tentang adanya “manusia ikan” yang selama
    ini keberadaannya menjadi misteri. Pak Tama mengungkapkan bahwa sang manusia
    itu memang ada. Seng – nama manusia ikan tersebut – hidup di lautan. Menyelam
    cukup lama dan hanya tidur di atas papan yang mengambang di laut. Namun sayang
    pada tahun 2007 meninggal dunia dalam usia 38 tahun. Saat ini keluarganya pun
    masih ada.
    Sejak kecil anak-anak suku Bajo sudah mengenal laut
    Setelah panjang lebar menceritakan sejarah suku Bajo, Pak Tama
    kemudian mengajak kami berkeliling kampung. Melihat kehidupan yang hampir sama
    dengan daratan, hanya bedanya di atas laut saja. Di sana ada warung, bengkel,
    bahkan nama jalanpun ada. Listrik dan air PDAM juga sudah masuk dan menjadi
    fasilitas yang memadai. Pondasi rumah yang ditopang oleh kayu Gopasa terlihat
    sangat kokoh, bahkan bisa bertahan hingga 30 tahun.
    Suasana jalan di dalam Kampung Bajo
    Satu lagi terungkap misteri keberadaan sejarah suku Bajo yang akan
    menjadi sebuah catatan budaya di nusantara. Tidak terasa waktu terus berjalan
    dan kami melanjutkan perjalanan lintas propinsi dari Gorontalo menuju Palu di
    Sulawesi Tengah yang kami tempuh dalam waktu 8 jam melewati daerah Kasimbar dan Toboli yang melewati pegunungan dan
    pesisir pantai. Rasa lelah hilang seketika sesaat setelah tiba di Kota Palu dan
    menyantap sup daging lembu yang menjadi kuliner khas daerah ini : KOLEDO

    Koledo, kuliner khas Kota Palu. 


  • Terios 7 Wonders : [Day-1] Manado – Torosiaje : Perjalanan Panjang 668 km Selama 18 jam

    Aku tergelak dalam nuansa senang
    Fajar temaram menyuguhkan keindahan alam
    Siapa pencipta engkau nan indah

    Fajar di lokon terlihat menggoda
    Pusaran awannya bak alur kehidupan
    Berputar melingkar dengan damai

    Ku seruput secangkir kopi sembari tersenyum
    Kenikmatan lukisan tuhan
    Tak sebanding dengan secangkir kopi

    Perjalanan tetap berlanjut
    Meski enggan berpisah denganmu
    Fajar di lokon terlihat menggoda

    (Ahmad Faruq)

    Seorang teman langsung membuatkan puisi di atas ketika foto pemandangan Gunung Lokon Manado saya upload di twitter. Foto di atas merupakan pemandangan Gunung Lokon yang saya ambil dari lantai 6 Hotel Aryaduta saat siap-siap berangkat menuju acara opening ceremony ekspedisi “Amazing Celebes Heritage” di Daihatsu Malalayang, Manado.
    Hari ini 2 Oktober 2014 adalah hari dimulainya ekspedisi tahunan #Terios7Wonders. Kami disambut oleh tarian Kawasaran dari Minahasa. Tarian ini menyuguhkan ketangguhan prajurit kerajaan dalam menghadapi musuh dalam peperangan. Dalam kesempatan tersebut akhirnya secara resmi ekspedisi Terios 7 Wonders ke-3 Episode Amazing Celebes Heritage dimulai!
    Tari Kawasaran
    Bersama 5 Blogger Sahabat Petualang
    Dan perjalananpun dimulai !
    Misi pertama adalah mengunjungi Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara Pa Dior di Tompaso. Kami disambut lagu “Maju Tak Gentar” yang dibawakan oleh alat musik tiup dari bambu yang berbentuk seruling dan terompet yang terbuat dari logam. Kami mencoba untuk meniup seruling tersebut tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan, berkali-kali mencoba ternyata sulit juga. Ternyata perlu trik khusus untuk memainkan alat musik ini.
    Alat tiup dari bambu dan logam yang unik
    Inilah terompet terbesar di dunia
    Tercatat dalam Guiness World Record
    Namun ada satu yang membuat bangga, yaitu di tempat ini terdapat terompet raksasa yang ternyata merupakan terompet terbesar di dunia dan masuk Guiness World Record. Selain terompet terdapat juga kolintang terbesar dan 5 jenis atraksi yang masuk dalam rekor dunia. Jadi totalnya ada 7 rekor, persis seperti 7 wonders.
    Pusat Kebudayaan ini juga menyajikan beberapa kebudayaan khas Sulawesi Utara seperti adanya Rumah Tenun Kain Pinatewengan, yang menerangkan proses pembuatan tenun dari benang hingga menjadi kain. Ternyata rumit juga ya, perlu 3 minggu untuk pembuatan 1 kain secara tradisional. 
    Ada juga Wale (Rumah) Anti Narkoba yang memberikan edukasi tentang bahaya narkoba. Ketika masuk dan melihat dampak narkoba bagi manusia, jangankan ingin mencoba, menyentuhnya saja tidak ingin sama sekali. Ditampilkan juga beberapa artis internasional yang menjadi korban narkoba seperti Michael Jackson, Whitney Houston dan Marilyn Monroe dalam bentuk poster. Ada juga daftar orang-orang terkenal yang menjadi korban keganasan narkoba.
    Setelah berkeliling pusat kebudayaan, kami disuguhi makan siang khas manado, tentu dengan sambal khas rica-rica sambil diiring lagu-lagu yang dibawakan oleh alunan musik dari bambu.
    Namun karena perjalanan masih panjang, akhirnya kami harus segera pergi menuju destinasi berikutnya. Tepat pukul 14.00 kami meninggalkan Tompaso menuju Kawangkoan, Bintauna, Isimu, Marissa dan akhirnya sampai juga di Torosiaje pada pukul jam 07.00 pagi.
    Perjalanan 18 jam menempuh 668 km melalui jalan berliku, menaiki tanjakan terjal dan turunan curam. Melewati desa-desa terpencil di Sulawesi Utara yang jauh dari keramaian kota, bahkan jaringan internet pun tidak ada. Kami hanya istirahat saat waktu sholat, makan malam dan mengisi bahan bakar. Namun rasa penat hilang begitu melihat pemandangan-pemandangan yang indah saat kami lewati. 
    Menempuh berbagai medan
    Dan saat menginap di atas Terios rasa pegal tidak begitu terasa karena rasa nyaman yang kami dapatkan saat berada didalamnya. Suspensi yang empuk, AC yang sejuk dan head unit yang menyajikan lagu-lagu kesayangan menjadi teman sejati sepanjang perjalanan.
    Berikutnya destinasi yang tidak kalah hebat sudah menanti yaitu Kampung Bajo, sebuah desa yang berada di atas laut. Nantikan segera reportasenya.
    foto : koleksi pribadi
         
       

  • Terios 7 Wonders : Ekspedisi “Amazing Celebes Heritage” Dimulai!

    Dan akhirnya ekspedisi #Terios7Wonders yang diselenggarakan oleh Daihatsu Motor Indonesia dimulai. Ekspedisi kali ini adalah yang ketiga kalinya yang diadakah oleh Daihatsu. Tim akan menjelajahi Pulau Sulawesi sepanjang 2.800 km dengan tema “Amazing Celebes Heritage”. Sebelumnya Daihatsu juga mengadakan ekspedisi di Sumatera tahun 2012 dengan tema “Coffee Paradise” dan tahun 2013 lalu ekspedisi Jawa-Pulau Komodo dengan tema “Hidden Paradise”. Kali ini tema yang diusung adalah kebudayaan yang memang merupakan bagian kekayaan yang tidak ternilai di bumi nusantara ini termasuk di wilayah Sulawesi. 

    Jam 4 pagi para peserta dari media, blogger dan pihak Daihatsu sudah berdatangan. Blogger yang ikut dalam ekspedisi ini adalah Wira Nurmansyah, Barry Kusuma, Fahmi Rijal, Cumi Lebay dan saya sendiri. Tepat pukul 06.00 pesawat take off dari Bandara Soekarno – Hatta menuju Bandara Sam Ratulangi, Manado. Diperlukan waktu sekitar 3 jam untuk sampai di lokasi tujuan. Dengan ditambah selisih waktu 1 jam Waktu Indonesia Tengah (WIT) sehingga tepat jam 11.00 kita sudah sampai di Manado. Perjalanan langsung dilanjutkan menuju penginapan Hotel Aryaduta dan langsung dijamu santap siang dengan aneka kuliner khas bumi Kawanua ini. Pedasss..

    Selamat Datang di Bumi Kawanua

    Pemandangan Laut Manado dari Hotel Aryaduta
    Setelah istirahat sejenak kemudian sekitar jam 16.00 dilanjutkan dengan konferensi pers kepada media lokal tentang adanya ekspedisi “Amazing Celebes Heritage”. Dalam kesempatan tersebut juga dipamerkan 7 (tujuh) mobil Daihatsu Terios TX yang terdiri 5 Manual Transmission (MT) dan 2 Automatic Transmission (AT)  siap menjelajahi Sulawesi. Jika sebelumnya ke tujuh mobil tersebut berwarna putih, kali ini cukup bervariasi, selain warna putih ada juga warna hitam, abu-abu dan merah marun. Selain itu dipaparkan juga rencana perjalanan yang memakan waktu sekitar 11 hari, diawali di Manado dan diakhiri di Wakatobi. Hampir semua wilayah propinsi di Sulawesi ini dilewati. Rasanya tidak sabar untuk memulai petualangan ini yang secara resmi akan diluncurkan besok hari.
    Discover  The New Adventure : Terios 7 Wonders
    Rencana Perjalanan Amazing Celebes Heritage
    Setelah acara press conference selesai kami disuguhi pemandangan indah berupa sunset yang berada tepat di tepi tempat acara berlangsung. Sunset tersebut memperlihatkan siluet Gunung Manado Tua dengan indah dimana ada tempat indah juga yang ada dekat sana yaitu Bunaken.
    Gunung Manado Tua menjadi siluet yang indah saat senja.
    Di sana ada keindahan lain : Bunaken.
  • Tugu Kilometer Nol : Dari Sini Indonesia Di Mulai

    Untuk mencapai tugu ini diperlukan 40 menit dari Pelabuhan Sabang, Pulau Weh dengan jarak 32 km. Melewati jalan yang berliku, naik dan turun bukit. Perlu ekstra hati-hati 8 km terakhir karena jalannya sempit hanya selebar 5 meter. Transportasi dapat menggunakan kendaraan umum dengan tarif Rp 50.000,- per orang atau sewa kendaraan Rp 350.000 per hari.



    Tugu ini berada di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya – Sabang. Saat memasuki pelataran tertulis dengan jelas “Tugu Kilometer Nol Indonesia The Monument of Zero Kilometer Indonesia” Lalu terdapat bangunan putih berbentuk lingkaran yang terdiri dari 2 lantai dengan tinggi 22,5 meter. Di lantai dasar terdapat tugu KM.0 dengan diameter kurang lebih satu meter yang terbuat dari besi. Kami segera mengabadikan momen spesial ini dengan mengibarkan bendera Aku Cinta Indonesia.
    Lalu kami beranjak ke lantai 2 dan disini terdapat prasasti yang menunjukkan posisi geografis kilometer nol ini.Posisi Lintang : 05 54′ 21.42″ LU, Bujur 95 13′ 00.50″ BT, Tinggi : 43.6 meter (MSL). Pengukuran posisi geografis tugu kilometer nol Indonesia di Sabang ini diukur oleh pakar BPP Teknologi dengan menerapkan teknologi Satelit Global Positioning System (GPS).Tugu ini diresmikan pada tanggal 9 September 1997 oleh Wakil Presiden Try Sutrisno dan Menristek BJ Habibie pada waktu itu.

    Dari lantai 2 kita juga bisa melihat keindahan laut lepas Samudera Hindia di ujung barat Indonesia. Beberapa kali terlihat monyet liar mengintip dari balik pohon seakan mengucapkan selamat datang di tempat ini.

    Lengkap sudah sebagai anak bangsa bisa menginjakkan kaki di tempat ini. Walau tempatnya cukup sederhana, walau hanya sebuah lingkaran besi dengan diameter 1 meter, tapi tugu ini memiliki maknanya begitu dalam sebagai lambang kedaulatan Republik Indonesia tercinta. Dari sini Indonesia dimulai!
  • Terdampar di Pulau Biak


    Tuntutan pekerjaan yang membawaku terdampar sampai ke Pulau Biak. Beberapa bulan harus tinggal di sebuah pulau yang terletak di Samudera Pacific. 



    Pulau Biak merupakan sebuah pulau karang yang berada di Papua. Pulau ini terpisah dari pulau Papua yang besar. Letaknya berada di Teluk Cendrawasih. Kalau kita naik pesawat dan akan turun di Bandara Frans Kaisepo Biak, rasanya seperti mau mendarat di Kapal Induk, karena terlihat kecil sekali.

    Disaat waktu senggang, dengan ditemani teman baru dari sini, kumanfaatkan untuk menjelajahi pulau yang ternyata menyimpan potensi pariwisata yang luar biasa, baik wisata alam, wisata budaya ataupun wisata sejarah. 


    Pesona Pulau Biak sangat indah, terutama pantai-pantainya yang masih bersih dan jernih seperti Pantai Barito, Parai, dan Bosnik serta memiliki terumbu karang yang indah di Kepulauan Padaido. Pernah suatu hari jalan-jalan ke Biak Utara. Disana ada satu pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Ombaknya besar. Namun tempatnya sepi karena beberapa waktu lalu kawasan ini tersapu oleh tsunami. Jadi benar-benar serasa terdampar di sebuah pulau asing.

    Dan yang paling seru adalah kegiatan mancing yang dilakukan malam hari. Setelah mendapat ikan yang besar-besar seperti ikan ekor kuning, ikan kakap merah, dll, ikan tersebut langsung dibakar. Jadi rasanya masih segar. Adapun nasinya ditanak dengan menggunakan buah kelapa. Jadi buah kelapa dikupas bagian atasnya kemudian masukkan beras sepertiganya. Kemudian dimasak diatas bara api. Setengah jam kemudian nasi sudah masak. Rasanya jangan ditanya karena sudah tercampur dengan air kelapa dan gurihnya daging kelapa. Ditambah ikan bakar segar dengan sambal dabu-dabu. Bisa nambah berkali-kali. Lain waktu menunya diganti bukan dengan ikan, tapi lobster! Wah pokoknya Benar-benar serasa terdampar di….surga.  

    Selain itu terdapat peninggalan-peninggalan dari sisa-sisa Perang Dunia II masih terasa, seperti Goa Jepang dan Monumen PD II di Parai. Khusus untuk monumen ini, dibuat oleh pemerintah Jepang untuk mengenang tentara-tentara Jepang yang gugur pada saat perang pacific melawan sekutu. Setiap tahun, banyak turis asal Jepang yang merupakan keluarga dan kerabat yang gugur datang untuk mengenang dan melakukan upacara di tempat ini.
    Banyak sekali kawasan-kawasan wisata yang sangat menarik. Pada saat penerbangan Jakarta – Biak – Honolulu – Los Angeles masih ada, perkembangan ekonomi di Biak cukup baik, namun seiring dengan ditutupnya jalur penerbangan ini, maka seakan-akan menutup roda perekonomian di kota ini. Termasuk diantaranya bangkrutnya Hotel Biak Marauw (Bintang 4) yang merupakan kebanggaan warga Biak.
    Satu yang tidak bisa dilupakan, penduduk asli Biak, sangat ramah terhadap pendatang atau turis yang datang kesana. Mereka sangat antusias bila kita menanyakan sesuatu tentang pulau ini.
    Waktu bergulir begitu cepat. 3 bulan “terdampar” berlalu tanpa terasa. Rasanya belum puas menjelajahi pulau kecil ini. Tiba waktunya untuk kembali ke Jakarta. Aku tidak tahu kapan akan kembali kesana, namun seorang teman mengatakan Biak itu singkatan dari Bila Ingat Akan Kembali!

  • Sawarna, Surga Tersembunyi di Ujung Banten

    Tepat jam 08:30 tim berangkat menuju destinasi pertama yaitu Desa
    Sawarna yang berada di wilayah Bayah, Banten. Untuk menghemat waktu,
    kami tidak melalui jalur Ciawi yang sering macet, namun kami memotong
    jalan via Jalan Cipaku Bogor hingga tembus di daerah Cihideung, sesudah
    Lido. Memang sih jalannya jadi sedikit curam dan berliku, namun Terios
    TX yang kami gunakan dapat melibas medan dengan mudah. Dari Cihideung
    kemudian menggunakan jalan alternatif lagi kemudian muncul di
    Parungkuda. Dari situ kami juga menggunakan jalur alternatif lagi
    melalui Cikidang yang melewati Sungai Citarik yang terkenal dengan arung
    jeram-nya. Kurang lebih satu jam melewati kawasan perkebunan dan hutan
    kami sudah tiba di Palabuhanratu tepat jam 12:00 sesuai dengan rencana.
    Jadi pas banget dengan waktunya makan siang yang kali ini diadakan di
    sebuah rumah makan tepat berada di tepi pantai.

    Di daerah Cikidang menjelang Palabuhanratu
    Di daerah Cikidang menjelang Palabuhanratu
    View Pantai Palabuhanratu saat makan siang
    View Pantai Palabuhanratu saat makan siang

    Dalam hitungan menit menu seafood yang dihidangkan habis tanpa sisa.
    Bisa jadi karena lapar atau lapar banget 🙂 Pukul 13.30 perjalanan
    dilanjutkan kembali dengan pemandangan laut pantai selatan di sebelah
    kiri. Jalur yang dilalui kali ini lebih ekstrim dibanding yang tadi.
    Tiba-tiba ada tanjakan terjal 45 derajat, bahkan tikungan tajam hampir
    180 derajat. Diperlukan kegesitan pengemudi untuk menghadapi itu semua
    dan tentu saja performa kendaraan. Dalam perjalanan juga sempat
    mengambil gambar video untuk kepentingan sebuah tayangan acara otomotif
    di TV nasional (nanti jadwal tayangnya dikabari ya :)) Jadi “sang
    sutradara” memberikan aba-aba via handy talky yang ada di setiap
    kendaraan, kapan harus jalan pelan, harus konvoi atau melaju cepat,
    semua harus menyimak apa yang diucapkan via HT.
    Tanpa terasa akhirnya setelah menempuh perjalanan sepanjang 180 km
    dari Sentul, Bogor kita semua tiba di Desa Sawarna. Waktu menunjukkan
    tepat pukul 15:30. 6 jam perjalanan memang bukan waktu yang singkat
    untuk sebuah perjalanan darat, apalagi medan yang dilalui cukup menguras
    stamina baik pengemudi ataupun penumpang. Namun berkat kenyamanan
    Terios TX ini semua itu hampir tidak terasa. Terbukti kami semua
    langsung menuju Pantai Sawarna walau harus berjalan kaki sepanjang 800
    meter terlebih dahulu untuk mencapainya. Melewati jembatan goyang yang
    terbuat dari kayu, kemudian melewati rumah penduduk yang kebanyakan
    sudah berubah fungsi menjadi homestay dan warung.
    Hamparan
    pasir dan ombak yang besar menyambut kami di sore yang agak mendung itu.
    O ini ya Pantai Ciantir Sawarna, gumam saya dalam hati. Pantainya sih
    terlihat biasa saja, namun ketika saya melihat ke sebelah kiri nampak
    dari kejauhan sebuah eh dua buah batu yang cukup besar berada di bibir
    pantai. “Itu Batu Layar” ujar Wira, salah seorang blogger. Walau
    terlihat cukup jauh, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Sambil
    melihat bule-bule yang sedang surfing, kita berjalan kaki menuju Pantai
    Batu Layar. Beberapa orang menyebutnya juga sebagai Pantai Tanjung
    Layar. Sudah 15 menit berjalan tapi kok belum sampai juga ya. Jadi
    seperti melihat Monas di Jakarta, terlihat dari jauh tapi pas dideketin
    kok nggak nyampe-nyampe 😀

    Dan ketika sudah jelas terlihat didepan mata, saya hanya bisa
    mengucap syukur sudah menjejakkan kaki ditempat ini. Satu mahakarya yang
    Tuhan ciptakan ada di tempat ini. Dua buah batu besar yang disebut Batu
    Layar berdiri gagah ditepi pantai dikelilingi karang-karang yang kokoh,
    ditemani dengan deburan ombak sepanjang hari, saya hanya bisa bergumam :
    Luar Biasa! Kini terjawab sudah, mengapa saya begitu sering mendengar
    di kalangan blogger traveler sebuah tempat wisata yang indah bernama
    Sawarna. Ditambah lagi dengan hadirnya sunset yang indah, sungguh suatu
    senja yang sempurna.

    Batu Layar, Sawarna
    Batu Layar, Sawarna
    6b1233c4e9cedc312b500b0cbaa49dbe_sunset-sawarna
    Sunset, Sawarna

    Sunset 7 Terios (Foto @DaihatsuInd)
    Sunset 7 Terios (Foto @DaihatsuInd)

    Sawarna 2 October 2013

    @harrismaul

  • Malam Sejuta Bintang di Ranu Pani

    Hari ini akan mengunjungi Ranu Pani, sebuah
    danau (ranu) seluas 4 hektar tempat yang berada di kaki Gunung Semeru
    yang juga merupakan salah satu tempat tinggal suku Tengger. Sebelumnya
    kami mengunjungi tuan rumah Daihatsu Malang dan mendapat sambutan yang
    cukup meriah. Menjelang siang kami berangkat melalui daerah Kabupaten
    Lumajang. Walau jaraknya cukup dekat, berdasarkan data GPS adalah
    sekitar 51 km, namun untuk menuju kesana ternyata harus melalui jalan
    yang melingkar dan berliku. Ditambah dengan kondisi jaln yang berbatu
    dan rusak.

    Saat perjalanan, kami cukup senang ketika melihat penampakan Gunung
    Semeru dari kejauhan. Namun keberadaan Gunung tersebut kadang ada,
    kadang menghilang. Kadang berada di kiri jalan, kadang ada di kanan
    jalan. Hal ini disebabkan oleh kondisi jalan yang berliku-liku (jangan
    berpikiran mistis dulu :))

    Nampak Gunung Semeru dari kejauhan
    Nampak Gunung Semeru dari kejauhan


    Hari mulai
    gelap saat memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dimana
    Ranu Pani berada. Selain Ranu Pani ada juga danau lain yang berada di
    kawasan taman nasional ini yaitu Ranu Kumbolo. Pasti ingat kalau sudah
    nonton film 5 CM. Ya betul, tempat tersebut adalah salah satu tempat
    syuting film tersebut.

    Melewati Sawah dan Perkampungan
    Melewati Sawah dan Perkampungan

    Dan akhirnya sekitar jam 7 malam kami tiba di Ranu Pani. Segera kami
    semua menggunakan jaket tebal karena dingin sudah mulai menusuk tulang.
    Kami disambut oleh tokoh masyarakat setempat dan langsung disiapkan
    hidangan santap malam. Tanpa sungkan kami pun melahap dengan nikmat.
    Segera setelah itu kami siap-siap untuk menginap di tenda yang sudah
    disiapkan ditepi danau Ranu Pani. Kami menyebutnya tenda sejuta bintang,
    karena langit sangat cerah saat itu dan jutaan bintang begitu bersinar
    di atas langit. Segera kami abadikan momen indah dengan mengambil tripod
    untuk mendapat hasil yang maksimal.

    Malam Sejuta Bintang
    Malam Sejuta Bintang
    Setelah
    selesai acara hunting foto, acara dilanjutkan dengan api unggun di tepi
    danau. Beberapa teman sudah banyak yang tidur. Menjelang tengah malam
    saya pun mulai memasuki tenda untuk beristirahat. Dingin semakin
    menusuk. Jaket dan sarung tangan tidak sanggup menahan dingin yang
    mencapai sekitar 5 derajat celcius itu.

    Walau kantuk masih mendera, terpaksa diabaikan karena mendengar suara
    teman-teman yang sudah bangun di pagi hari untuk mengejar sunrise.
    Dengan wajah bantal kupaksakan untuk ikut bangun agar tidak melewatkan
    momen sesaat itu. Alangkah kagetnya ketika keluar tenda langsung
    disajikan pemandangan indah Danau Ranu Pani karena semalam ketika datang
    sudah gelap dan tidak melihat kondisi danau secara keseluruhan.

    Setelah
    puas mengeksplorasi Danau Ranu Pani, kemudian kami berkeliling di
    sekitar danau, termasuk berinteraksi dengan penduduk setempat dan
    beberapa pendaki yang akan naik ke Gunung Semeru. Dan ketika sampai atas
    kita melihat danau secara keseluruhan dan melihat tenda-tenda kecil
    tempat menginap kami tadi malam.Melihat
    keindahan dan ketenangan salah satu “surga tersembunyi” ini rasanya
    ingin lebih lama tinggal di tempat ini, namun jadwal sangat padat dan
    destinasi lain sudah menanti untuk dikunjungi. Tepat pukul 10 pagi,
    setelah memberikan sedikit kenang-kenangan berupa peralatan kebersihan
    untuk penduduk Desa Ranu Pani, kami beriringan kembali menuju destinasi
    berikutnya : Baluran.

  • Eksplorasi Taman Nasional Baluran

    Pagi hari disibukkan dengan orang-orang yang akan mengejar sunrise.
    Mengingat momen tersebut sangat spesial, segera saya bangun dari tempat
    tidur, mengambil kamera dan ikut berburu sunrise. Sampai lupa mandi,
    bahkan sekedar ganti baju sekalipun. Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi,
    tapi langit sudah terang benderang seperti jam 6 pagi. Memang sih di
    Kawasan Baluran ini sudah mendekati daerah Waktu Indonesia Tengah jadi
    wajar jika waktu pagi nya lebih terang.

    Matahari sudah menampakkan sinarnya. Bentuknya yang berwarna jingga
    memberikan efek indah yang membentuk siluet dari pohon-pohon yang berada
    di sekitar Taman Nasional Baluran. Mata langsung disuguhkan pemandangan
    alam sabana yang luas seperti padang-padang di Afrika yang sering saya
    lihat di National Geographic.

    Setelah selesai hunting foto sunrise, dengan menggunakan Terios, kami
    kembali menjelajahi dan mengeksplorasi keindahan alam Taman Nasional
    Baluran yang memiliki luas 25.000 Hektar. Sejauh mata memang terhampar
    dataran vegetasi sabana yang diselingi dengan pohon-pohon khas daerah
    kering. Sesekali kami harus mengendap-ngendap karena melihat adanya
    segerombolan kijang yang sedang mencari makan. Jika mendengar ada yang
    datang mereka langsung lari ke bagian hutan.

    Ada pemandangan unik saat kami kembali ke wisma untuk sarapan pagi.
    Di depan wisma hadir beberapa monyet rambut mohawk yang siap menyantap
    makanan yang kita beri. Awalnya cuma satu dua ekor. Tapi lama-lama
    menjadi banyak. Seperti serbuan dari Planet of The Apes. Beberapa dari
    mereka bahkan berani masuk wisma jika pintu terbuka. Saya memergokinya
    sekali, tapi ketika melihat manusia mereka langsung kabur. Mungkin dalam
    pikirannya wah takut ada kingkong :D.
    Ada kejadian lucu saat kami semua berkumpul di depan wisma. Saat
    melempar-lempar makanan, ada sepasang monyet yang memadu kasih, bahkan
    beradegan tidak senonoh. Kontan kami semua tertawa melihatnya. Huh dasar
    monyet :)) Satu kejadian lagi yang tidak saya lupakan yaitu ketika saya
    menyeduh kopi. Saat akan minum, baru ingat kamera tertinggal di dalam
    wisma. Kopi panas saya tinggal dan saya masuk mengambil kamera. Ketika
    saya kembali, ternyata kopi saya sudah diambil satu monyet dan sedang
    diminum, walau terlihat kepanasan, tetep aja tu monyet ngabisin kopi
    saya. Lagi-lagi saya cuma bisa berucap, Huh dasar monyet! 😀
    Semakin siang, semakin panas. Matahari memancarkan sinarnya dengan
    terik, kurang lebih sekitar 35-40 derajat, padahal waktu baru
    menunjukkan pukul 10.00 pagi. Bisa kebayang kan panasnya seperti apa.
    Kalau sudah begitu kita tinggal masuk ke dalam mobil dan ngadem setel AC
    cukup 2 bar.

    Lagi-lagi kami dikejar oleh jadwal yang padat. Kami harus segere
    meninggalkan Baluran untuk menuju destinasi berikutnya. Dalam setengah
    jam kami sudah berangkat menuju pelabuhan Ketapang dan dalam waktu satu
    jam kita menyebrang sudah sampai di Gilimanuk. Welcome to Bali!

    Selamat tinggal Pulau Jawa. Dari ujung barat selama tujuh hari kita
    sudah jelajahi bersama para sahabat petualang hingga ke ujung timur.
    Saatnya hopping dari pulau ke pulau. Setibanya di Bali, kami sempatkan
    istirahat dan makan siang dengan menu khas : Ayam Betutu. Perjalanan
    dilanjutkan menuju tempat istirahat di Pulau Dewata ini yaitu Hotel
    Santika Kuta. Setelah makan malam di depan hotel, kami semua
    beristirahat kembali untuk menyiapkan tenaga untuk menuju destinasi
    berikutnya.