Eksplorasi Taman Nasional Baluran

Pagi hari disibukkan dengan orang-orang yang akan mengejar sunrise.
Mengingat momen tersebut sangat spesial, segera saya bangun dari tempat
tidur, mengambil kamera dan ikut berburu sunrise. Sampai lupa mandi,
bahkan sekedar ganti baju sekalipun. Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi,
tapi langit sudah terang benderang seperti jam 6 pagi. Memang sih di
Kawasan Baluran ini sudah mendekati daerah Waktu Indonesia Tengah jadi
wajar jika waktu pagi nya lebih terang.

Matahari sudah menampakkan sinarnya. Bentuknya yang berwarna jingga
memberikan efek indah yang membentuk siluet dari pohon-pohon yang berada
di sekitar Taman Nasional Baluran. Mata langsung disuguhkan pemandangan
alam sabana yang luas seperti padang-padang di Afrika yang sering saya
lihat di National Geographic.

Setelah selesai hunting foto sunrise, dengan menggunakan Terios, kami
kembali menjelajahi dan mengeksplorasi keindahan alam Taman Nasional
Baluran yang memiliki luas 25.000 Hektar. Sejauh mata memang terhampar
dataran vegetasi sabana yang diselingi dengan pohon-pohon khas daerah
kering. Sesekali kami harus mengendap-ngendap karena melihat adanya
segerombolan kijang yang sedang mencari makan. Jika mendengar ada yang
datang mereka langsung lari ke bagian hutan.

Ada pemandangan unik saat kami kembali ke wisma untuk sarapan pagi.
Di depan wisma hadir beberapa monyet rambut mohawk yang siap menyantap
makanan yang kita beri. Awalnya cuma satu dua ekor. Tapi lama-lama
menjadi banyak. Seperti serbuan dari Planet of The Apes. Beberapa dari
mereka bahkan berani masuk wisma jika pintu terbuka. Saya memergokinya
sekali, tapi ketika melihat manusia mereka langsung kabur. Mungkin dalam
pikirannya wah takut ada kingkong :D.
Ada kejadian lucu saat kami semua berkumpul di depan wisma. Saat
melempar-lempar makanan, ada sepasang monyet yang memadu kasih, bahkan
beradegan tidak senonoh. Kontan kami semua tertawa melihatnya. Huh dasar
monyet :)) Satu kejadian lagi yang tidak saya lupakan yaitu ketika saya
menyeduh kopi. Saat akan minum, baru ingat kamera tertinggal di dalam
wisma. Kopi panas saya tinggal dan saya masuk mengambil kamera. Ketika
saya kembali, ternyata kopi saya sudah diambil satu monyet dan sedang
diminum, walau terlihat kepanasan, tetep aja tu monyet ngabisin kopi
saya. Lagi-lagi saya cuma bisa berucap, Huh dasar monyet! 😀
Semakin siang, semakin panas. Matahari memancarkan sinarnya dengan
terik, kurang lebih sekitar 35-40 derajat, padahal waktu baru
menunjukkan pukul 10.00 pagi. Bisa kebayang kan panasnya seperti apa.
Kalau sudah begitu kita tinggal masuk ke dalam mobil dan ngadem setel AC
cukup 2 bar.

Lagi-lagi kami dikejar oleh jadwal yang padat. Kami harus segere
meninggalkan Baluran untuk menuju destinasi berikutnya. Dalam setengah
jam kami sudah berangkat menuju pelabuhan Ketapang dan dalam waktu satu
jam kita menyebrang sudah sampai di Gilimanuk. Welcome to Bali!

Selamat tinggal Pulau Jawa. Dari ujung barat selama tujuh hari kita
sudah jelajahi bersama para sahabat petualang hingga ke ujung timur.
Saatnya hopping dari pulau ke pulau. Setibanya di Bali, kami sempatkan
istirahat dan makan siang dengan menu khas : Ayam Betutu. Perjalanan
dilanjutkan menuju tempat istirahat di Pulau Dewata ini yaitu Hotel
Santika Kuta. Setelah makan malam di depan hotel, kami semua
beristirahat kembali untuk menyiapkan tenaga untuk menuju destinasi
berikutnya.

Leave a Comment