Ketika mendapat tawaran untuk menjelajah Pulau Sulawesi melalui darat tanpa pikir panjang langsung saya terima. Never Say Maybe. Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan. How far will you go? You decide! Sungguh suatu perjalanan yang luar biasa dan tidak terlupakan. Menikmati keanekaragaman budaya dan keindahan wisata alam. Berikut ini beberapa atraksi wisata dan budaya yang kami temui sepanjang perjalanan.
Namun ada satu yang membuat bangga, yaitu di tempat ini terdapat terompet raksasa yang ternyata merupakan terompet terbesar di dunia dan masu World Record. Selain terompet terdapat juga kolintang terbesar dan 5 jenis atraksi yang masuk dalam rekor dunia. Jadi totalnya ada 7 rekor. Pusat Kebudayaan ini juga menyajikan beberapa kebudayaan khas Sulawesi Utara seperti adanya Rumah Tenun Kain Pinatewengan, yang menerangkan proses pembuatan tenun dari benang hingga menjadi kain. Ternyata rumit juga ya, perlu 3 minggu untuk pembuatan 1 kain secara tradisional. Ada juga Wale (Rumah) Anti Narkoba yang memberikan edukasi tentang bahaya narkoba. Ketika masuk dan melihat dampak narkoba bagi manusia, jangankan ingin mencoba, menyentuhnya saja tidak ingin sama sekali. Ditampilkan juga beberapa artis internasional yang menjadi korban narkoba seperti Michael Jackson, Whitney Houston dan Marilyn Monroe dalam bentuk poster. Ada juga daftar orang-orang terkenal yang menjadi korban keganasan narkoba. Setelah berkeliling pusat kebudayaan, kami disuguhi makan siang khas manado, tentu dengan sambal khas rica-rica sambil diiring lagu-lagu yang dibawakan oleh alunan musik dari bambu.
2. Mengunjungi Suku Bajo yang Tinggal di atas laut | Gorontalo
Hari ke-2 destinasi yang akan dikunjungi adalah Kampung Suku Bajo yang berada di Desa Torosiaje, Gorontalo. Keunikan dari kampung ini adalah seluruh rumah dan fasilitasnya berada di atas laut. Ya benar-benar di atas lautan lepas pantai Torosiaje, Gorontalo. Saat kami mengunjungi kami menggunakan sampan tradisional yang dapat diisi penumpang sebanyak 5 orang. Dalam kurun waktu kurang lebih 10 menit kita sudah sampai di dermaga Kampung Bajo. Kami disambut oleh Pak Tama yang menjadi kepala dusun di Kampung Bajo. Pak Tama menjelaskan tidak hanya rumah penduduk saja yang berada di kampung di atas laut ini, tetapi ada juga pusat pemerintahan tingkat desa, aula, masjid, hingga penginapan umum. Jadi seperti sebuah kampung pada umumnya. Selanjutnya Pak Tama menjelaskan bahwa mereka yang menghuni kampung ini adalah Suku Bajo dan suku lainnya jika ada yang menikah antar suku. Pak Tama sendiri aslinya orang Makassar, namun karena beliau menikah dengan seorang suku Bajo, akhirnya dia menetapkan diri untuk tinggal di kampung ini.
Adapun alasan mengapa dia mau tinggal di tempat ini karena ia merasakan ketenangan karena jauh dari kebisingan kendaraan dan dekat dengan pekerjaan sehari-hari yaitu sebagai nelayan, jadi jika ingin melaut tinggal turun saja karena perahu selalu disandarkan di belakang rumahnya. Lebih jauh Pak Tama menjelaskan bahwa suku Bajo ini banyak tersebar di pesisir pantai di seantero nusantara, bahkan sampai ada juga yang terdampar di Philipina. Awal mulanya kerajaan Bajo terdapat di wilayah Selat Malaka. Saat itu sang raja kehilangan puteri satu-satunya saat sedang berada di laut. Mendengar sang puteri hilang kemudian sang raja memerintahkan segenap pengawal dan rakyatnya untuk mencari keberadaan sang putri. Sebagai abdi kerajaan dan rakyat yang patuh, mereka para pengawal dan rakyat bahu membahu mencari keberadaan sang putri di lautan. Begitu sayangnya sang raja kepada putrinya, beliau memerintahkan kepada para pengawal dan rakyatnya yang akan melakukan pencarian hingga terucap kata, “Jangan kalian pulang sampai puteriku ditemukan!”
Dan sejak saat itu para pengawal dan rakyat suku Bajo mencari keberadaan sang puteri di segala penjuru lautan. Mereka tidak berani pulang karena tidak menemukan sosok sang puteri. Mereka lebih memilih tinggal di setiap pesisir pantai yang disinggahinya. Itulah sebabnya keberadaan suku Bajo ada di segenap penjuru nusantara. Mereka ada di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Wakatobi, Kendari, bahkan hingga ada yang terdampar kepulauan Sulu di Philipina Selatan dan Thailand. Dan semua itu mereka tinggal di atas laut! Bagi Suku Bajo hidup di atas laut adalah sebuah pilihan. Mereka pernah mencoba untuk hidup seperti manusia normal di daratan, namun setelah dijalani tidak bertahan lama. Mereka kembali ke kehidupan di atas lautan. Menghirup udara laut, menikmati kesunyian dan deru ombak tanpa henti. Suku Bajo juga dikenal sebagai manusia yang mahir menahan nafas di dalam air hingga beberapa menit, bahkan ada yang bisa mencapai 11 menit. Kegiatan yang mereka lakukan adalah menyelam untuk mencari ikan atau lobster yang berada di dasar laut. terungkap juga Cerita tentang adanya “manusia ikan” yang selama ini keberadaannya menjadi misteri. Pak Tama mengungkapkan bahwa sang manusia itu memang ada. Seng – nama manusia ikan tersebut – hidup di lautan. Menyelam cukup lama dan hanya tidur di atas papan yang mengambang di laut. Namun sayang pada tahun 2007 meninggal dunia dalam usia 38 tahun. Saat ini keluarganya pun masih ada. Setelah panjang lebar menceritakan sejarah suku Bajo, Pak Tama kemudian mengajak kami berkeliling kampung. Melihat kehidupan yang hampir sama dengan daratan, hanya bedanya di atas laut saja. Di sana ada warung, bengkel, bahkan nama jalanpun ada. Listrik dan air PDAM juga sudah masuk dan menjadi fasilitas yang memadai. Pondasi rumah yang ditopang oleh kayu Gopasa terlihat sangat kokoh, bahkan bisa bertahan hingga 30 tahun. Satu lagi terungkap misteri keberadaan sejarah suku Bajo yang akan menjadi sebuah catatan budaya di nusantara. Tidak terasa waktu terus berjalan dan kami melanjutkan perjalanan lintas propinsi dari Gorontalo menuju Palu di Sulawesi Tengah yang kami tempuh dalam waktu 8 jam melewati daerah Kasimbar dan Toboli yang melewati pegunungan dan pesisir pantai. Rasa lelah hilang seketika sesaat setelah tiba di Kota Palu dan menyantap sup daging lembu yang menjadi kuliner khas daerah ini : KOLEDO
3. Mengenal Lebih Jauh Kebudayaan Mandar | Sulawesi Barat
Hari ke-3 kami awali dengan mengunjungi Polulele atau Jembatan Kuning yang menjadi salah satu landmark Kota Palu. Kemudian dilanjutkan menuju Pasangkayu yang ditempuh dalam waktu 2 jam. Sepanjang perjalanan terhampar pemandangan kebun sawit sejauh mata memandang. Kami melewati jalan trans Sulawesi yang sangat mulus. Pada satu jalan lurus bahkan bisa menempuh hingga 120 km per jam. Kondisi mobil masih stabil dan nyaman. Dari propinsi Sulawesi Tengah kami mulai masuk di Propinsi Sulawesi Barat. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan panjang sejauh 327 km selama 11 jam akhirnya kami tiba di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Kami disambut oleh tarian selamat datang yang dibawakan oleh anak-anak begitu lincah dan bersemangatnya. Ada juga tarian yang salah satu penarinya adalah seekor kuda. Nama tariannya adalah Sayang Patudu atau Kuda Menari. Tarian ini menjadi tarian khas Mandar.
Kami juga disambut oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Majene yang diwakili oleh asisten bupati dan Dinas Kebudayaan dan Kepemudaan. Mereka begitu antusias dengan kedatangan kami mengunjungi salah satu propinsi termuda di Indonesia. Perwakilan dari bupati menjelaskan bahwa Majene memiliki kebudayaan yang bisa dikembangkan dan menjadi salah satu unggulan daerah diantaranya adalah Sarung Tenun Sutra Kain Mandar. Sarung tenun ini dikenal memiliki kualitas yang tinggi. Perlu ketelitian dan kecermatan dalam membuat kain tradisional ini. Itulah mengapa diperlukan waktu hingga 8 hari untuk membuat satu kain berukuran 4 meter dengan menggunakan alat tenun bukan mesin. Dalam kesempatan tersebut juga diperagakan proses pembuatan kain Mandar yangmenggunakan alat tenun tradisional bukan mesin.
Sarung tenun sutra Mandar memiliki warna-warna cerah atau terang seperti warna merah, kuning dengan desain garis geometris yang lebar. Selain membuat motif tradisional, mereka juga membuat motif modifikasi yang cukup banyak digemari. Bahan dasar kain Mandar adalah benang perak dan benang emas. Itulah yang menjadikan kain ini terlihat indah dan istimewa juga harga yang cukup tinggi. Harga jual kain Mandar berkisar antara Rp 300.000 hingga jutaan rupiah.
Setelah selesai mengeksplorasi budaya Mandar, kami juga dijamu dengan makanan khas daerah Mandar yang penuh selera. Dan lagi-lagi waktu yang membuat kami berpisah. Sekitar jam 9 malam kami harus segera meninggalkan Majene menuju destinasi berikutnya.
4. Selamat Datang di Toraja | Sulawesi Selatan
Setelah melalui perjananan panjang, akhirnya kami tiba di tugu selamat datang. Tapi ternyata perjalanan masih jauh. Masih melewati Kota Rantepao dan beberapa kampung. Sekitar 2 jam dari tugu selamat datang tadi kita baru sampai di tujuan yaitu Desa Adat Lembang Tadongkon, Kesu. Di tempat ini kami disambut oleh nyanyian dan tarian Pa’gellu yang dibawakan oleh anak-anak. Kemudian disuguhi penganan khas dan kopi yang sudah melegenda yaitu Kopi Toraja. Indah sekali rasanya menyeruput kopi Toraja di tempat asalnya, apalagi sambil dihibur oleh tari-tarian kebudayaan setempat.
Kejutan tidak sampai disitu, tidak lama kemudian kami disuguhi makan makan dengan menu kuliner khas Tana Toraja yaitu Pa’piong Burak yaitu masakan daging ayam yang dicampur dengan batang pisang yang dimasak di dalam bambu. Rasanya jangan ditanya, silahkan coba sendiri.

Kuliner Khas Tana Toraja : Pa’piong Burak Setelah makan malam selesai masih ada kejutan lainnya yaitu kami diperkenankan untuk menginap di Tongkonan yaitu rumah adat khas Tana Toraja. Jika biasanya kita hanya bisa melihat rumah adat yang bentuknya unik itu, sekarang malah diperbolehkan untuk tidur didalamnya. Sebuah pengalaman baru yang luar biasa.
Suasana di dalam Tongkonan Di dalam Tongkonan sudah disediakan bantal dan alas tidur yang peraturannya tidak boleh dipindah-pindah. Jadi kepala kita harus tidur di atas bantal yang sudah ditentukan. Tongkonan yang kami inapi cukup sederhana, hanya ada tiga bagian ruang, di depan, tengah dan belakang. Saya sendiri memilih tidur di bagian depan agar bisa melihat pemandangan Tongkonan lainnya yang berjejer di depan rumah. Rasa dingin langsung menusuk ketika waktu sudah menunjukkan tengah malam. Rasanya seperti AC 20 derajat. Segera kami ambil jaket dan selimut sebagai penghangat. Tidak lama kami semua terlelap. Selamat pagi dari Tana Toraja. Segelas kopi Toraja kontan membuat badan menjadi hangat di tengah udara yang dingin. Tidak berapa lama segera keluar makanan untuk sarapan pagi. Jika dilihat dari menu-nya sih sepertinya makanan berat, ada nasi dan lauk pauk plus jus terong belanda sebagai dessert. Tapi akhirnya habis juga, lumayan sebagai penambah energi karena hari ini akan eksporasi Tana Toraja di beberapa tempat. Setelah sarapan, tim berangkat menuju destinasi pertama yaitu Londa. sebuah tebing berbatu dan curam yang dipakai sebagai pemakaman oleh leluhur sejak abad 10 Masehi. Jenazah terlebih dahulu dimasukkan ke dalam peti kemudian disimpan di dalam tebing. Lokasi penyimpanan disusun berdasarkan kasta. Semakin tinggi kasta, semakin tinggi dia disimpan. Khusus untuk para bangsawan juga dibuatkan patung yang dipajang di bagian depan tebing. Selain itu ada juga dua buah goa yang didalamnya tersimpan ratusan kerangka jenazah, ada yang tersimpan di dalam peti, ada juga yang tergeletak begitu saja. Kami semua memasuki goa yang gelap dan sempit, bahkan sampai harus jongkok untuk memasukinya.
Jadi serasa Indiana Jones ketika memasuki pekuburan ini. Melihat setiap tengkorak dan peti jenazah dan mendapat penjelasan dari sang pemandu wisata. Hingga mendapat satu cerita yang unik tentang kisah sepasang tengkorak yang tergeletak berdampingan disudut goa. Mereka adalah Lobo dan Andui. Sepasang kekasih yang bunuh diri karena cintanya tidak direstui oleh orangtuanya karena masih saudara sepupu. Mereka bunuh diri dengan cara menggantung diri di pohon yang sama, pada hari yang sama. Setelah mereka meninggal tentu keluarganya amat sedih. Akhirnya mereka sepakat untuk menempatkannya berdampingan di dalam goa Londa ini. Mendengar cerita ini jadi teringat kisah Romeo & Juliet.
Hari masih gelap ketika kami tiba di Tanjung Bira setelah menempuh perjalanan sejauh 447 km dari Tana Toraja. Melewati kota-kota Makale, Enrekang, Sidrap, Watampone, Sinjai dan Bulukumba. Kurang lebih memakan waktu sekitar 11 jam. Sesuai dengan rencana awal, kami akan menginap di tenda di tepi Pantai Pasir Putih Tanjung Bira. Saya berjalan dalam gelap, menuruni tangga menuju tenda yang sudah disediakan. Menjatuhkan ransel dan segera merebahkan diri karena badan sudah terlalu lelah. Dalam hitungan detik sudah terlelap. Deburan ombak sayup-sayup terdengar. Cahaya matahari pagi menyusup ke dalam tenda. Dengan mata berat dan muka bantal sedikit memaksakan diri untuk bangun untuk mengabadikan suasana matahari terbit. Menikmati gelap menjadi terang adalah sebuah pengalaman langka. Dan hal ini baru saja saya dapatkan. Menyaksikan fajar jingga merekah, hingga berubah menjadi terang menyilaukan. Ombak yang tenang mulai bergelora. Seakan mengajak untuk bermain bersama. Tidak kuasa menolak hasrat, segera raga berlari menyambut dan membasahi diri menghempaskan segala penat dan lelah. Seketika badan menjadi bugar kembali. Ah kenapa menjadi puitis begini. Namun memang suasana pantai ini begitu romantis karena didukung oleh ombak yang tenang dan pasir putih yang halus. Inilah Tanjung Bira, tempat paling selatan di Pulau Sulawesi. Nampak dari kejauhan sebuah tanjung yang menjorok ke laut lepas.
Tempat pembuatan kapal Phinisi yang kami kunjungi berada di Desa Tanah Beru, Kecamatan Banto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Pemiliknya Bapak Sarifudin memaparkan bahwa pembuatan kapal phinisi ini sudah dilakukan oleh kakek buyutnya. Jadi sudah turun temurun. Ilmu yang didapatnya pun sangat sederhana dan lebih banyak otodidak. Tidak ada gambar desain dalam setiap pembuatan kapalnya. Cukup jelaskan panjang kapal yang diinginkan dan timnya akan segera membuatnya dalam kurun waktu 3-6 bulan. Tergantung beratnya mulai dari 1 ton hingga 100 ton. Adapun biaya pembuatan kapal dimulai dari Rp 30 juta dan bahkan beliau pernah mendapat order pembuatan kapal senilai Rp 10 Milyar dari pembeli asal Amerika Serikat. Bahan baku utama pembuatan kapal Phinisi ini adalah kayu besi yang didatangkan dari Kendari. Bahan kayu lainnya adalah kayu biti sebagai bahan pendukung. Beliau menjamin bahwa kapal Phinisi buatannya bisa bertahan selama puluhan tahun dan sudah terbukti hingga saat ini tidak komplain dari pembelinya. Selesai berbincang kami diajak mengunjungi kediaman Pak Sarifudin yang sederhana melanjutkan pembicaraan. Namun karena waktu yang padat,kami harus meninggalkan tempat tersebut karena akan mengunjungi destinasi lain yaitu pemukiman Suku Kajang di Desa Tanatoa, Bulukumba. Suku Kajang berada di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba dengan luas wilayah 3000 hektar, 600 diantaranya hutan adat. Suku ini dikenal sebagai suku yang menolak gaya hidup modern. Di desa yang jumlah penduduknya sekitar 3.947 jiwa tersebut tidak boleh ada listrik, tidak boleh ada peralatan elektronik, tidak boleh ada kendaraan bermotor dan segala hal yang berbau modern lain. Mirip dengan suku Baduy di Banten. Peraturan adat lainnya adalah setiap tamu yang berkunjung harus menggunakan pakaian hitam hitam. Termasuk penduduk desa Tana Toa juga harus menggunakan pakaian warna gelap.
Saat memasuki Desa Tana Toa kami disambut oleh para tetua, mereka menyambut kami dengan atraksi bakar linggis. Jadi linggis dibakar hingga berwarna merah dan salah satu tetua yang sudah berusia 99 tahun memegang besi tersebut, mengulas-ulas ke bagian kaki dan tangannya, namun tidak terjadi apa-apa. Kami semua ditawari untuk mencoba memegang besi tersebut. Awalnya ragu, namun setelah diyakinkan sayapun mencobanya. Ternyata tidak panas, hanya hangat seperti ujung luar knalpot motor. Namun ketika dijatuhkan ke dalam daun kering seketika daun itu hangus terbakar.
Setelah semalaman mengarungi Teluk Bone dari Pelabuhan Bajoe akhirnya setelah 8 jam sampai juga di Pelabuhan Kolaka. Tim kami sendiri yang menggunakan kapal ferry tiba sekitar jam 8 pagi dan beristirahat di penginapan. Kami melanjutkan perjalanan menuju Kendari. Sesampainya di Kendari kami disambut oleh para penari muda dari Sanggar 28 Kendari. Mereka begitu bersemangat memberikan tarian persahabatan “Malulo” tarian khas daerah Kendari. Selain itu ada juga tarian Kalegoa dari Buton, tari Linda dari Muna, tari Wa Ode Wau dari Wakatobi.
Dalam kesempatan tersebut kami juga diajak menari “Malulo” bersama dan diajari secara langsung. Tarian ini dilakukan dengan posisi saling bergandengan tangan dan membentuk sebuah lingkaran. Salut juga dengan keinginan dan tekad mereka yang ingin menjadi penari handal agar bisa memperkenalkan budaya mereka baik kepada Indonesia maupun dunia.
Kami juga disuguhi makanan khas daerah/ Kuliner yang disajikan adalah Sinonggi, makanan khas Suku Tolaki dari Sulawesi Tenggara. Sepintas makanan ini mirip Papeda kuliner khas dari Papua dan Maluku. Dan ternyata bahan dasarnya sama yaitu sari pati sagu, namun berbeda dalam penyajiannya. Untuk Sinonggi, jika tepung sudah masak tidak dicampur dengan sayur atau kuah ikan, tergantung selera masing-masing. Saya sendiri awalnya sempat ragu karena dilihat dari bentuknya yang seperti lem. Namun setelah disajikan dan dicampur dengan kuah ikan kuning, plus sambal dabu-dabu, segera saja makanan tersebut tandas dalam piring.
Dari Kendari perjalanan kembali dilanjutkan ke Wakatobi dengan menggunakan pesawat. Penerbangan dari Bandara Haluoleo Kendari menuju Bandara Matahora, Wakatobi dapat ditempuh dalam waktu 45 menit. Namun karena keterbatasan bandara hanya bisa didarati oleh pesawat kecil. Kami menggunakan pesawat tipe ATR 72 tipe 500 berbaling-baling yang hanya mengangkut 72 penumpang. Jika ingin berkunjung ke sana harus sudah pesan jauh-jauh hari karena pesawat ini hanya satu kali saja melayani Kendari – Wakatobi PP.
Setelah selesai kami segera dibagi kamar untuk penginapan. Karena keterbatasan tempat tim dibagi tiga penginapan yang rata-rata disulap dari rumah penduduk, Ada yang kebagian di hotel terapung yang lokasinya tepat di bibir pantai, ada juga di penginapan yang berada di tengah permukiman penduduk. Saya sendiri kebagian di penginapan yang juga dijadikan basecamp. Esok paginya kami melakukan diving. Spot pertama yang diselami adalah “Waha Bay”. Saya sempat nervous juga karena terakhir menyelam setahun lalu di Pulau Komodo, jadi perlu adaptasi lagi. Memastikan masker bersih dan tidak masuk air, mengempiskan BCD dan secara naluriah melakukan squeeze. Awalnya adalah berupa hamparan pasir di kedalaman sekitar 8 meter. Namun ketika menyusur lebih dalam lagi kami menemukan terumbu karang yang indah dan berwarna warni. Ada ikan-ikan yang kecil yang menari-nari didalamnya. Ada ikan badut alias nemo, ada pula ikan batu yang bentuknya seperti batu. Tapi jangan coba-coba menyentuhnya karena memiliki racun yang mematikan. Tidak terasa kedalaman sudah mencapai kisaran angka 18 meter, sementara tabung oksigen sudah menipis diangka 50 bar. Segera saya menghubungi buddy David Setyawan dan minta izin untuk naik dengan memberikan kode jempol ke atas (seperti like di Facebook). Ternyata diapun sudah mencapai batas limit. Akhirnya kita sama-sama naik ke atas. Kurang lebih 30 menit berada di dalam air. Selanjutnya kita istirahat dulu karena instruktur akan membimbing para newbie yang akan melakukan Discovery Dive di kapal sebelah.
Spot berikut yang akan kami selami adalah “Mari Mabuk” dan “Roma”. Kenapa namanya mari mabuk? Nanti liat dan rasakan saja sendiri. Begitu ucap dokter Yudi yang membuat kami semakin penasaran. Dengan melakukan teknik giant strike kami langsung masuk ke kedalaman 15 meter. Dan benar saja, kami semua dibuat mabuk. Banyak sekali ikan dimana-mana dengan aneka ragam warna terumbu karang. Indah sekali. Serasa ada di National Geographic! Tiba-tiba ada ikan yang melintas di depan mata. Beberapa photographer sibuk memotret ikan-ikan dan terumbu karang yang warna-warni. Dan ada satu kejadian unik yang baru pertama kali saya alami selama menyelam. Tiba-tiba air laut yang hangat berubah menjadi dingin. Sedingin es. Awalnya takut juga apakah ada masalah dengan tubuh saya. Tapi tidak lama kembali menjadi hangat lagi. Ketika saya tanya instruktur saat sudah di atas fenomena itu adalah arus air di dalam laut dan itu kerap terjadi.
Dua kali dive dengan rata-rata 45 menit penyelaman bagi seorang new diver seperti saya cukup melelahkan. Apalagi waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dulu sambil makan siang di tepi pantai yang indah. Dan setelah selesai makan kami melanjutkan penyelaman ke-3 di “Gunung Waha”. Gunung Waha merupakan suatu tempat di kedalaman sekitar 15-20 meter, tempatnya menyerupai gunung yang ditumbuhi oleh berbagai jenis koral dan terumbu karang. Satu pemandangan yang membuat menakjubkan adalah adanya segerobolan ikan-ikan atau biasa disebut schooling.
Pemandangan yang biasa dilihat di TV kini tampak di depan mata. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa. Tidak terasa saat kontrol persediaan udara sudah mencapai titik kritis 50 bar. Bersama buddy David Setiawan memutuskan untuk segera naik namun sebelumnya melakukan safety stop terlebih dahulu selama 3 menit sambil menikmati pemandangan sebelum naik. Dan keindahan semakin sempurna ketika kepala muncul di atas permukaan laut yang pertama terlihat adalah semburat mentari yang bersiap untuk tenggelam. Rasanya ingin waktu berhenti sejenak menikmati senja hari itu.


























kita harus bangga dengan negeri kita banyak hal – hal yang menarik yang kita tonjolkan kepada dunia luar bahwa indonesia itu Surga ..mari kita jaga ,rawat dan lestarikan ..semangat
http://www.discoverykomodoadventure.com
terimakasi atas informasinya sangat membantu .
Setuju dan terima kasih
wah telat saya bacanya, pak 🙂
udah daftar sih dari beberapa bulan lalu,he he he
*ke tkp lagi ah