Dua kata yang sering terdengar dari mulut para pejalan, backpacker, turis atau traveler. Terlebih ketika Pulau Komodo terpilih menjadi satu dari New 7 Wonders di dunia. Wajar saja karena tempat ini merupakan pelabuhan terakhir menuju pulau yang dihuni oleh “Komodo Dragon”. Demikian bule-bule menyebutnya.
Dan kini, tempat itu sudah ada di depan mata. Ya, akhirnya kaki ini bisa menginjakkan kaki di tempat yang paling diidam-idamkan para traveler di indonesia.travel
![]() |
| Labuan Bajo (Foto : Koleksi Pribadi) |
Labuan Bajo hanyalah kota kecil yang merupakan ibukota dari Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kota ini menjadi semacam tempat singgah sebelum menuju tujuan akhir Pulau Komodo dan sekitarnya. Menuju Labuan Bajo ada dua cara : melalui udara dan melalui laut. Di Labuan Bajo sudah ada Bandara Komodo yang melayani penerbangan dari Denpasar dan daerah-daerah sekitarnya. Kondisi bandara Komodo saat ini memang cukup mengkhawatirkan. Dengan fasilitas yang seadanya, tidak heran tax bandara disana hanya sepuluh ribu rupiah! Saat ini sedang dibangun bandara yang lebih representatif, mudah-mudahan tahun 2014 sudah selesai.
Sedangkan melalui jalan laut dari Pulau Sumbawa menuju Pelabuhan Sape dilanjut menggunakan ferry selama kurang lebih 5 jam dan langsung menuju Labuan Bajo. Dan kami datang menggunakan dengan cara yang kedua. Ferry berangkat dari Sape sekitar jam 6 sore dan tengah malam sudah tiba di Labuan Bajo.
Saat tiba kami langsung menginap di sebuah hotel yang berada di tepi pantai. Dan ketika bangun pagi, di balik kaca jendela kamar terhampar pemandangan laut dan pantai yang begitu indahnya. Segera saya ambil kamera untuk mengabadikannya.
![]() |
| Kapal Phinisi yang menemani kami selama di perairan Pulau Komodo (Foto : Koleksi Pribadi) |
Hari pertama rencananya akan melakukan diving. Alam bawah laut di perairan ini sudah tidak perlu disangsikan lagi keindahannya. Spot pertama kami akan menyelam di sekitar Pulau Bidadari. Patrick, Dive master kami segera memberi instruksi apa yang harus dilakukan saat penyelaman, termasuk resiko arus yang cukup deras.
Saya cukup pede walau agak deg-degan saat akan diving untuk pertamakalinya setelah memiliki lisensi Scuba Divers. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang dipelajari beberapa bulan lalu saat belajar. Intinya jangan lupa squeeze (mengeluarkan udara dari telinga), buoyancy (keseimbangan tubuh, jangan sampai mengapung atau tenggelam), masker clearing dan jangan panik. Itu saja.
![]() |
| Siap-siap melakukan penyelaman (Foto : Koleksi Pribadi) |
Saya memulai dengan giant stride yaitu teknik dengan melangkahkan kaki dari kapal dan langsung terjun ke laut. Dan byurrr… segera mengempiskan BCD sambil squeeze. Tidak lama saya dan buddy yang seorang DiveMaster sudah berada di dasar laut kedalaman 20 meter. Dua teman lainnya yang ikut fundive Bambang dan Puput segera menyusul. Dihadapan kami terbentang seperti sebuah padang pasir. Kok tidak ada apa-apa pikir saya. Lalu kami mulai bergerak dan mulai menemukan ikan-ikan kecil. Tidak lama kami juga menemukan tumbuh-tumbuhan laut, terumbu karang dan segala jenis ikan yang hidup didalamnya. Sesekali saya membersihkan masker karena mulai berembun. Arus agak deras, kadang saja terpisah cukup jauh dengan buddy. Dan akhirnya buddy saya mengikat tali diantara kami berdua. Jadinya tandem. Dijamin saya nggak akan jauh-jauh dari dirinya.
![]() |
| Salah satu spot diving di Pulau Komodo (Foto : Indonesia.travel) |
Persoalan lain muncul ketika persediaan oksigen saya mulai menipis. Padahal diving baru berlangsung sekitar 30 menit. Kok saya boros banget ya? tanya saya dalam hati. Lalu dengan baik hati sang divemaster memberikan regulator octopus (cadangan) kepada (mulut) saya. Tentu tidak saya sia-siakan kesempatan ini agar lebih lama bisa diving didalam laut. Selang 15 menit persediaan oksigen sang divemaster juga sudah mencapai limit 50 bar dan akhirnya dengan kode seperti Like Facebook (jempol ke atas) kami harus segera naik sebelum kehabisan oksigen, tidak lupa melakukan deco stop selama 3 menit di kedalaman 5 meter sebelum naik ke permukaan. Hal ini dilakukan untuk menetralisasi nitrogen dalam tubuh. Cukup kaget ketika melihat darah keluar dari hidung Puput. Namun menurutnya hal tersebut sudah biasa. Sedangkan dari hidung Bambang keluar ingus hehehe.
Total 45 menit kami menyelam dan cukup puas dengan pemandangan dibawah sana. Dan bukan kebetulan ketika tiba di kapal sudah tersaji dengan manis makanan untuk santap siang. Sebuah skenario yang sempurna. Setelah santap siang, giliran discovery diving bagi teman-teman yang belum mempunyai lisensi. Kali ini dilakukan di tepi sebuah pantai. Sementara mereka diving kami leyeh-leyeh di sundeck sambil menunggu sunset ditemani kopi flores racikan sang juru masak dan pisang goreng. Oh rasanya indah sekali, serasa dunia milik kita.
Waktu terus berjalan dan hari mulai gelap. Kembali bel berbunyi dan bersiap untuk makan malam. Mesin kapal sudah dimatikan. Jangkar sudah diturunkan. Waktunya istirahat. Kami berada di tengah laut entah dimana. Ombak-ombak kecil membuat kapal bergoyang dan meninabobokan kami. Sambil menatap bintang kami semua bercerita tentang pengalaman yang menakjubkan hari ini. Dan keluarlah sebuah cerita.
![]() |
| Leyeh-leyek di atas sundeck, sambil menikmati pemandangan sunset di foto bawah (Foto : Koleksi Pribadi) |
Alkisah beberapa waktu yang lalu hidup di sebuah desa seorang pemuda yang menikahi seorang wanita bernama Putri Naga yang datang dari negeri seberang. Tidak lama setelah menikah sang putri hamil dan beberapa waktu kemudian melahirkan bayi kembar. Namun kedua anak kembar tersebut berbeda, yang satu berwujud manusia, sedangkan kembarannya menyerupai seekor kadal. Karena malu salah satu anak kembarnya berbeda dengan bayi lainnya, maka anak yang menyerupai kadal dibuang ke sebuah pulau.
Waktu terus berjalan hingga anak kembar beranjak besar, sampai suatu hari anak tersebut berburu dan hendak memanah salah satu hewan buruannya berupa seekor komodo. Namun saat hendak memanah sang ibu mencegahnya. “Jangan bunuh dia nak, dia adalah saudara kembarmu!” ujar sang ibu. Sang anak tentu kaget dan menjawab, “Mana mungkin bunda aku memiliki saudara seekor komodo?”
Sang ibu lalu menjelaskan, “Beberapa tahun lalu bunda melahirkan bayi kembar. Dirimu dan komodo itu. Coba lihatlah tangan komodo tersebut dan ada tanda lahir yang sama denganmu!” Dan benar saja ketika diperiksa di kedua tangan mereka terdapat tanda lahir yang sama. Dan akhirnya sang anak tidak jadi membunuh komodo yang ternyata kembarannya tersebut.
![]() |
| Pantai Pink nampak dari kapal Phinisi (Foto : Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Inilah Pantai Pink, Pulau Komodo. Benar-benar berwarna pink! (Foto : Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Siapa tahan godaannya? (Foto : Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Pantai Pink dari atas bukit (Foto : Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Pemandangan dari atas bukit Taman Nasional Komodo (Foto : Koleksi Pribadi) |
Setelah puas foto-foto perjalanan kami lanjutkan dan kami bertemu dengan Komodo yang ketiga yang berada diantara daun-daun yang sudah menguning. Kelihatannya saru, untung diberitahu sang ranger bahwa itu adalah Komodo. Kami semua mendekatinya dan sudah siap dengan kamera masing-masing. Mungkin karena merasa risih di foto terus Komodo tersebut lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut. Momen ini justru sangat bagus dan dimanfaatkan untuk memfoto lebih banyak sambil mengikuti kemana Komodo itu pergi. Tapi jadi lucu juga seperti melihat infotainment ketika wartawan mengejar-ngejar artis atau nara sumber 😀
![]() |
| Salah satu komodo yang kami temui di sarang komodo (Foto : Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Saat senja, ribuan kelelawang keluar dari Pulau Kalong (Foto : Koleksi Pribadi) |
















Tempat yang indah, dan menjadi salah satu keindahan surga di dunai yang berada di belahan negeri nusantara.
Salam
Betul sekali mas 🙂
Selamat ya mas haris …. kali ini menang lagi …. jalan-jalan lagi ke danau toba …. 🙂
Terima kasih mbak astri 🙂
travelnya memang gratis ya mas ?
rahasianya apaan tuh ?
boleh tahu tidak ?
saya ikut lomba blog berhadiah travel mas 🙂
mengenai cerita putri naga, di keluargaku ada cerita seperti ini tapi kembarannya buaya & sampe sekarang trkadang takjub dengan cerita2 yang biasanya cuma tau dari komik ternyata disekitarku juga ada 🙂
eh mas, itu hotelnya kalo boleh tau hotel apa ya?
Halo Mbak Nuniek, memang sih orang sana menyebut Komodo itu Buaya juga karena mungkin bentuknya hampir mirip. Itulah kenapa mereka menamakan pelabuhan yg ada di Pulau Rinca adalah Loh Buaya.
Hotel yang di Labuan Bajo dengan view belakang pantai adalah Luwansan Beach Resort.